Posted in Rohayati: Kisah Kasih Kusut

BAB : DIA SUDAH PERGI !

Tiada hari paling berduka selain akhir desember kelabu kala itu. Rohayati terbaring lemas setelah upacara perjodohan ala anak ingusan kala itu. Hatinya yang lugu itu entah mengapa terasa penuh sesak. Sekujur tubuhnya terasa lemas tanpa sebab yang jelas. Ia tak sedang kena malaria, bukan juga tipes, apalagi DBD.

Rohayati tak berhenti terisak sepanjang jalan pulang. Andaikan ia tahu bahwa itu adalah kali pertama ia patah hati dalam sejarah hidupnya. Ia serasa tak ingin pulang ke rumah membawa hati yang remuk. Ia inginkan pulang ke haribaan Sang Maha Kuasa saja.

Rohayati berhenti. Kepalanya menengadah langit. Ia lihat sepertinya para malaikat mengejeknya.

“Ya Tuhan, cabut saja nyawaku.”

Rohayati berhamburan isak tangis lagi sepanjang jalan.

***

Rohayati sedang liburan sekolah usai ujian kelulusan dua hari kemarin. Si gadis cilik yang beranjak ABG masih tak mau beranjak dari kasur kapuknya yang apek tapi nyaman itu.

Sedang di luar sana hampir semua ibu-ibu di kompleks tempat tinggalnya pada ribut merumpi sekolah SMP paling bagus buat anak mereka. Kasak kusuk kesana kemari dan berpatroli tiada henti demi mencari warta lisan sebanyak-banyaknya tentang sekolah tingkat menengah yang sedang jadi hits dan trending topic kala itu.

Ibu Rohayati tak kalah pusing dibuatnya. Bapaknya ikutan repot menengakan Ibu yang mendadak kena serangan panik yang diderita isterinya akibat terlalu berat memikirkan masa depan Rohayati.

“Sudah, buk. Kalau anak itu tak dapat SMP favorit, nikahkan saja dia!”

Ibu mendelik, bapak meringis saja.

“Sebegitu putus asanya kah kau, Pak?” Batin Rohayati.

Pertengahan bulan Maret 1998, di Jakarta kena krisis. Orang-orang di televisi juga ikutan ribut. Rohayati bersyukur riuh di komplek tempat tinggalnya tidak sericuh yang ada di televisi. Yang dirasakan olehnya hanyalah jika ia sehari bisa makan empat kali, kini makan sehari dua kali saja sudah sangat bersyukur.

“Pak, berpikirlah. Jadilah laki-laki yang bisa diandalkan!”

“Buk, memang kalau sudah krisis begini kita bisa apa?” Bapak Rohayati menghempaskan diri di atas sofa. Duduk berbelakang dengan istrinya yang sedang ngambek sambil memijit pelipisnya.

“Kita jual mobil saja, Buk!”

Ibu Rohayati meradang. Rohayati yang mengintip di celah pintu jadi bergidik sendiri. Ibunya memang sangat angker tatkala sedang marah pada dirinya. Dicubit dan dipukul lidi memang makanan sehari-hari Rohayati. Tapi kali ini Bapak bahkan cuma bisa diam dimarahi Ibu, tanpa sepatah kata pun. Lelaki budiman yang lebih takut isteri lebih dari apapun.

Rohayati tak berpikir melanjutkan sekolah SMP-nya, bahkan makan pun tak selera. Otaknya buntu. Kisah cinta pertamanya berakhir tragis, nilai sekolahnya dalam masa krisis, perekonomian keluarganya sedang dilanda Tsunami dan masa depannya masih abu-abu kelam.

Bayangan peristiwa Desember kelabu itu kembali membayangi otaknya. Ketika Amira merenggut cintanya, cinta petamanya. Rahman pun tak pernah kelihatan lagi batang hidungnya sejak peristwa itu. Rahman mungkin sedang sibuk dengan mahligai cinta barunya. Ia lupakan pertemanan dengan Rohayati.

“Mungkin mereka sudah kawin lari.” Rasa putus asa mendera batin Rohayati.

Baru sekejap mata terpejam, mata itu terbelalak. Rohayati terlonjak bingung dan panik, barangkali ketularan Ibunya. Saat itu atmosfer ruang tamu sedang dipenuhi kebingungan, kecemasan dan kepanikan yang semua sumbernya berasal dari si Ibu. Ia menyambar jilbab yang baunya sudah apek, memakainya lalu bergegas ke rumah Rahman. Bukan, ia tak bermaksud mengejar cintanya seperti film-film Korea atau Bollywood yang kala itu sudah mulai terkenal. Bukan juga berlari-lari membawa selendang lalu mengitari pohon sambil ber-ciluk baa ria. Bukan. Sekali-kali bukan.

Ia memikirkan nasib VCD bersampul ‘Scorpion’, ‘Westlife’, tumpukan komik Conan dan Doraemon, serta seri novel Lima Sekawan yang sejak dua tahun ia berteman dengan Rahman. Memikirkan ‘hartanya’ bakal raib dibawa pergi oleh Rahman sudah cukup membuatnya gelisah setengah mati. Hati dan cintanya sudah ‘dijarah’ oleh Rahman, jangan pula hartanya yang ikut hilang.

“Tidak! Jangaan!” Batin Rohayati menjerit sepanjang jalan. Ia bergegas, bahkan berlari. Berlari secepat angin ia menuju ke suatu tempat.

Selama dua tahun pula mereka sering bertukar hobi, saling berbagi. Bahkan Rohayati tak segan membagi ‘hartanya’ pada orang asing demi membuktikan cintanya pada bocah lelaki itu.

Ia tak lagi memikirkan rasa gengsi yang seharusnya ia punya. Tembok yang dibangun Rohayati selama akhirnya runtuh seketika saat Rahman berhasil masuk dalam kehidupannya, dalam hatinya.

Kini, sahabat pertamanya yang akhirnya kembali menjadi asing bagi Rohayati telah pergi membawa lari perasaannya dan segala-galanya.

***

Rohayati menghentikan langkah persis di depan pagar rumah gedong yang halaman dan terasnya tidak terurus. Ranting pohon berserakan dan debu-debu tebal menyelimuti seluruh teras. Daun-daun gugur berhamburan sesuka mereka. Kaca jendela teras tertutup debu sehingga semakin samar pemandangan di dalam rumah. Daerah perumahan ini saja sudah sepi, terlebih setelah ditinggal pemiliknya.

Firasat Rohayati semakin tak enak. Rahman dan keluarganya mungkin sudah benar-benar pergi.

Wajahnya, ah, jangan tanya lagi perihal rupa Rohayati kala itu. Jilbabnya yang bau apek itu, makin sempurna lusuhnya karena keringat. Bau ketiak tertinggal di bajunya. Sungguh, bahkan gelandangan mungkin masih berpenampilan lebih baik dari dirinya.

Terus terang, sejak peristiwa patah hati di bulan Desember itu, Rohayati sudah tak peduli lagi tentang perawatan fisik apalagi menjaga wujudnya agar terlihat, setidaknya, enak dipandang. Maka, botol-botol lotion dan pembersih wajah plus penyegar, juga lulur dan masker yang berserakan di pojok meja belajarnya kini berhiaskan sarang laba-laba dan debu.

Tok tok tok

“Maaaaan, Rahmaaaaan!!!”

Rohayati memanggil nama Rahman tanpa tahu diri. Pegangan pagar bergembok itu mengeluarkan suara nyaring tak terkira. Berisiknya juga tak tahu adat. Rohayati berharap pintu kayu cokelat itu berderit dan terbuka, pertanda kecemasannya akan segera terjawab agar ia merasa lega.

Tukang sate dan tukang siomay memandangi gadis itu sejak tadi. Rohayati pun yang awalnya biasa saja kini terlihat risih karena dipandangi.

“Assalamu’alaikum… Rahmaaaaaan…”

Tukang sate berpandangan dengan tukang siomay di sebelahnya. Tukang sate berjalan menghampiri Rohayati yang agak tak tahu diri itu.

“Dek, cari siapa?”

Rohayati menoleh ke belakang, mengikuti sumber suara yang memanggilnya. Tatapannya terlihat sangat waspada dengan orang asing di belakangnya. Ia memandang tukang sate kepo yang sama tak tahu dirinya dengan Rohayati.

“Dek, saya tanya. Cari siapa? Cari keluarga Bapak Agus Salim?”

Rohayati membelalakkan mata. Kali ini ia memperhatikan tukang sate dengan sungguh-sungguh.

“Iya, Pak. Dari tadi Rahmannya nggak muncul-muncul.”

Tukang sate menoleh pada kawannya, tukang siomay. Ia pun tak mendapatkan kode apapun dari kawan seprofesinya itu.

“Anu. Rahman sama keluarganya sudah pindah dua hari yang lalu.”

Bagai disambar petir di siang bolong. Rohayati melongo tak percaya. Ia sandarkan punggungnya pagar rumah Rahman. Serangan syok mendadakan itu melumpuhkan kesadarannya selama beberapa detik. Kakinya mungkin terasa lemas, karenya ia duduk jongkok.

Ia duduk saja selama, entah sudah berapa lama. Rasanya waktu berjalan amat lambat bagi Rohayati. Sama persis ketika ia berdri mematung menyaksikan perjodohan pada akhir Desember kala itu.

Rahman tak hanya membawa perasaannya jauh bersamanya, tetapi juga kenangan dan harta Rohayati yang sejak kelas satu SD sudah ia kumpulkan dengan susah payah. Tangannya mengepal. Ia sandarkan dahinya pada kedua lututnya. Ia benamkan wajah penuh kesedihannya sepuas-puasnya. Cinta anak anjingnya berbuah duka yang begitu mendalam.

Tukang sate datang menghampirinya. Duduk di sisinya dan ada bersamanya. Rohayati terharu dengan kebaikan dan ketulusan bapak paruh baya itu.

“Dek, sudah. Kalau pacarnya pergi jangan ditangisi.”

Oh, alangkah tak tahu dirinya bapak sate ini? Rohayati hanya bisa membatin di sela isak tangisnya.

Rohayati hanya mampu menggumam, sebab tenggorokannya terasa tersumpal kesedihan yang membuncah. Bapak sate membimbingnya duduk di kursi tempatnya berjualan. Ada seorang Ibu-ibu yang turut bingung melihat drama Rohayati kala itu.

Ia menangkan diri berkat ramuan ajaib es teh pemberian tukang siomay. lalu sepiring sate dengan lima biji lontong yang dipotong kecil, serta lima tusuk sate komplit dengan bumbu, kecap dan bawangnya itu berhasil mengusir kegundahan dalam diri Rohayati.

Rohayati yang sedang patah hati itu menghabiskan hidangannya dengan lahap tanpa tahu diri. Puas makan, ia bersendawa saking tak tahu adatnya. Si Ibu dan dua bapak-bapak tertawa menggelegar. Bapak sate dan tukang siomay pun tak minta bayaran. Rohayati menunduk malu.

“Sudah dibayar sama Ibuk yang tadi itu, dek.”

Rohayati menangis lagi. Kali ini tanpa isakan yang berarti. Ia hanya merasa terharu.

“Ter…terima kasih, hiks, satenya…Pak.”

Rohayati melangkah pergi. Lima langkah ia maju meninggalkan si tukang sate, ia berbalik haluan. Ia menghampiri si tukang siomay.

“Terima kasih juga pak, es tehnya.”

Ah, Rohayati. Bagaimana pun tak tahu adat dirinya, ia tetap tahu cara berterima kasih. Gadis muda itu melangkah pergi dengan perut kenyang. Sedihnya lenyap untuk saat ini. Ia melangkah pulang mengikhlaskan hati, kenangan dan hartanya pada lelaki bernama Rahman. Doanya hanya satu, agar Rahman menjaga hartanya dengan baik.

Terlebih penting, dalam setiap duka dan musibah, akan selalu ada pelajaran berharga dan hikmah di baliknya. Hari ini dirinya belajar tentang pedihnya sebuah pengharapan, namun menularkan kebaikan adalah obat untuk menyembuhkan perasaan.

Duhai Rohayati, tegarlah. Dirimu hanya tak tahu apa yang sedangAllah  persiapkan untuk masa depanmu melalui semesta-Nya.

Ujian kesabaran dan ketegaran dimulai sejak saat akhir Desember kelabu. Sejak saat itu ia mulai hidup.

Advertisements
Posted in Observasi Absurdisme :D

Sebuah Kesalahan? Ah, Entahlah

Tired yow
Source: brainlesstales.com

Kupikir yang kulakukan akan benar. Menuruti kata hati dan apa yang selama ini menjerit dalam batin saking pedihnya luka yang ia torehkan. Kau tahu, bahkan aku bisa sebegitu lelah dengan rasa sedih dan sakit.

Hey,

Ingin kamu menghakimiku sebagai si jahat bermulut pedas?

Silahkan. Sungguh.

Hanya saja, dari apa yang kutampakkan di luar bukanlah sesuatu yang sebenarnya sama seperti apa yang ada dalam batinku. Apa yang selama ini mendera dan terus menerus melukaiku, ah, kamu tak akan pernah tahu.

Begini saja. Sekarang kamu beradalah di tempatku, di posisiku dan berperan sebagai aku.

Sudah?

Baiklah. Sekarang posisikan dirimu sebagai si anak sulung yang sejak dilahirkan harus memikul tanggung jawab besar. Kamulah yang sejak kecil dididik dengan keras supaya menjadi dewasa lebih cepat, cerdas, berani dan tangguh.

Sudah?

Sekarang, kamu harus punya cinta dan rasa sayang yang setinggi langit buat ayah ibumu, buat dua adikmu tersayang. Keluarga yang paling berharga dan satu-satunya. Hidupmu cuma buat mereka, berbakti dan mengabdi pada ayah ibumu.

Sudah?

Jika kamu akhirnya tahu bahwa yang paling berharga dan tak ternilai adalah ibu bapakmu, bagaimana perasaanmu, batinmu jika mereka berdua, perhiasan dan surgamu, DIHINA oleh manusia rendah yang ternyata punya hubungan darah denganmu? Bukan. Bukan adikmu. Tetapi… anak dari pamanmu. Sebut saja begitu.

Hinaan yang merendahkan itu kamu dengar tidak hanya dari satu orang, tetapi beberapa orang.

Masihkah kamu bisa berdiri tegap tanpa menunduk ingin menangis dengan dada yang berkobar amarah?

Adakah yang lebih pahit dari mereka yang kamu kira saudara yang baik, tetapi diam-diam menjatuhkan, merendahkan dan menginjak-injak martabat kedua orang tuamu dan tidak hanya dirimu?

Adakah yang lebih pahit dari menahan kisah ini seorang diri saking tak teganya kamu katakan ini kepada bapak ibumu? Kamu akan sakit sendiri, menderita sendiri dan… hancur seorang diri.

Rasa sakit yang menggerogoti batinmu yang terluka. Bertambah pedih dengan kepura-puraan yang ia tunjukkan di depanmu dengan segala sikap manis, senyum dan tingkah tanpa dosa.

Adakah yang lebih pedih ketika segala usahamu dan kawan-kawanmu demi kemajuan bersama akhirnya diakui oleh hanya satu orang saja. Dan itu adalah ‘dia’. Dia yang menorehkan luka yang begitu dalam sehingga tak akan mungkin bisa kamu lupakan.

Lalu…

Kata-kataku pagi ini padanya yang mungkin terasa kasar, sadis dan jahat itu ternyata menjadi sebuah masalah.

Masalah yang akhirnya membuat mereka semua memandang rendah diriku. Menyebutku si arogan dan si jahat.

Jujur saja, aku tak terpengaruh.

Malah aku ingin tertawa sembari bilang, ‘Alah, mereka tahu apa?’

Benar. Sebab jika tabir ini terbuka, maka kebusukan jati dirinya akan terungkap. Aku diam saja dan menanti dengan lebih sabar lagi.

Aku diam sembari menanti semua ini berakhir entah kapan.

Ngomong-ngomong tentang siapa si jahat itu, adakah yang lebih jahat dari mereka yang mendahulukan egoisme mereka dan mengorbankan orang lain agar memikul tanggung jawab tambahan mereka?

Lalu, bagaimana aku yang sudah berkorban sejak awal. Menyingkirkan apa yang benar-benar ingin kulakukan demi memikul tanggung jawab tambahan mereka.

Setidaknya kawan, jangan kalian seperti ‘dia’, si bedebah.

Tanyailah aku, ‘apa yang bisa kubantu?’.

Meski hanya sekalimat saja, aku sudah senang dan bahagia mendengarnya.

Sebab aku tahu, kalian masih peduli 😊

Posted in Rohayati: Kisah Kasih Kusut

Once I Fall in Love

once-you-fall-in-love-break-up-635x635

Pernahkah kamu merasa begitu tertarik dengan seseorang,

Lebih spesifiknya seorang lelaki. Kalau kamu laki-laki, tertariklah pada perempuan. Lawan jenismu.

Lumrah bukan, jika kita merasa ada suatu ikatan aneh antara kita dengannya. Lebih spesifiknya lagi, antara aku dengannya.

Aku bahkan sering tertawa seorang diri sekaligus memaki dalam hati mengingat kekonyolan dua manusia cupu yang saling punya rasa, tapi hanya sama-sama bisa diam.

Aku belajar hal paling riskan, yaitu ketika perasaan, hati dan emosi mengalahkan logika dan akal sehat.

Rasa tertarik ini jelas bukan rasa tertarik yang biasa. Seorang yang jauh berbeda dengan diri kita, dengan segala sesuatu yang bersifat unik, nyentrik dan serba…, ah sudahlah. Bilang saja aneh. Titik.

Seorang yang pernah kulupakan bertahun-tahun yang lalu. Di kehidupan sebelumnya aku juga tak pernah mengenalnya. Padahal dulu ia pernah membawaku ke dunianya yang aneh, seru dan serba jadi diri sendiri.

Tiba-tiba hanya karena satu hal yang sangat aneh, lembaran masa lalu itu bermunculan satu persatu. Stampel yang masih tertinggal di atas kertas putih tecorat-coret tanda tangan dan tulisan kita yang berhamburan menerjang logo organisasi, tempat menuntut ilmu abstrak yang pernah kita jalani bersama.

Aku meringis, juga ingin menangis.

Segala suka duka, curhatan kaum lemah dan lugu soal cinta, saling tukar cerita hingga pertemanan yang biasa itu tiba-tiba menjadi sesuatu yang sama sekali berbeda.

Kukira hanya aku saja yang merasaknnya, tapi kamu juga. Tanpa perlu kamu bilang tentang rasamu, aku tahu.

Aku senyum sendiri sambil menggigit bibir demi menahan tangis.

Tentang bagaimana kita tiba-tiba menjadi orang asing. Aku dan kamu, kita tak lagi saling sapa. Berkirim pesan hanya seperlunya saja. Bahkan entah karena sebab apa kamu dan aku, kita jadi menjaga jarak.

Apakah saat itu ego dan gengsi sebegitu besar, hingga pada akhirnya kita berdua sama-sama hancur oleh perasaan tak terkata.

Aku tak pernah ingat bisa punya kemampuan telepati, aku bisa tahu hanya dari caramu bicara, caramu berdiri di hadapanku dan caramu menjaga jarak.

Bodohnya, kulakukan hal yang sama.

Hingga senja kala itu berubah menjadi malapetaka.

“Hei, aku udah punya orang lain.”

Aku berdiri di belakangmu. Mengucapkan kata-kata bodoh itu dan jelas membuatmu yang masih membelakangiku tiba-tiba menjadi diam.

Aku bingung. Apakah saat itu kata-kataku adalah hal yang tepat untuk enghancurkan dinding es yang selama ini membuat kita berjarak?

Kurasa aku salah. Bukan hanya dinding antara kita saja yang runtuh, tetapi kita, kamu dan aku juga ikut runtuh.

Sungguh.

Aku sendiri tak paham siapa ‘orang lain’ yang kumaksud senja kala itu. Terlalu banyak mereka yang berseliweran, sekedar mampir lalu pergi lagi.

Bukan seperti kamu yang menemani dari titik nol dan selalu berdiri teguh di depanku, lalu kudorong kamu ke jurang paling gelap dan mematikan demi melupakan segalanya.

Lalu kuingat sketsa lain yang pernah kulihat di masa lalu.

Sketsa tentang dirimu dan dia. Ya, dia!

Dia yang entah sejak kapan tiba-tiba berada di antara kita. Dia yang jatuh hati padamu dan lebih berani mengungkapkannya tepat di hadapanmu. Sedangkan kala itu aku hanya layak sebagai pengecut yang diam-diam menyimpan rasa tanpa sekalipun pernah berani mengungkapkan.

Tapi aku tak mau jadi pengecut yang hanya menyalahkan orang lain atas kehancuran yang paling parah ini.

Di depan base organisasi, kamu dan dia saling berbincang. Dia tersenyum dan kamu juga. Mataku panas, jantungku berdegup semakin kencang dan hatiku terasa terbakar.

Aku saja baru tahu setelah setahun kita tiba-tiba menjadi asing, bahwa yang kurasakan saat itu adalah cemburu!

Barangkali memang benar. Saat itu aku mulanya merasa sakit dan cemburu. Lalu perlahan merasa jengkel dan segalanya berubah dalam sekejap.

Tapi tentulah aku tak mau segalanya menjadi sia-sia.

Darimu aku belajar cara seorang perempuan menjadi lebih jujur dan dewasa. Bagaimana menjadi tangguh seperti sekarang ini dan tak perlu bergantung pada siapapun juga. Meski akhirnya kusadari juga bahwa sejak dua tahun itu kamulah yang terakhir yang pernah ada.

Tentang stampel organisasi yang masih terselip di lembaran jurnalku yang sudah terlihat usang, kuberikan saja pada nyala api di luar rumah.

Dengan ini segala tentangmu akhirnya resmi menjadi kenangan masa lalu yang kini sudah jadi debu.

 

-Rohayati

(Dalam ‘Kisah Kasih Kusut’)

 

*Andai Rohayati adalah aku

Posted in The Story of mahasiswa ;D

Apakah Aku Dilahirkan Untuk Menjadi Seorang Pemimpin?

Sebelum saya mengulas tentang kepemimpinan, faktanya masih banyak orang yang belum mengerti perbedaan anatara ‘pemimpin’ dan ‘pimpinan’. Untuk menemukan definisi yang jelas tentang kepemimpinan, ada tiga pertanyaan yang dapat membantu untuk menemukan artian tentang kepemimpinan, yakni:

“Apakah yang dimaksud dengan pemimpin?’

“Siapakah yang bisa menjadi seorang pemimpin?”

“Bisakah semua orang menjadi pemimpin?”

Salah satu definisi umum mengenai kepemimpinan adalah suatu kualitas khusus yang dimiliki seseorang yang memungkinkan orang tersebut untuk memerintah, mempengaruhi dan memimpin orang lain. Kualitas – kualitas yang dimaksud  diantaranya adalah aura karismatik, kekuatan pikiran, potensi intelektual, bakat organisasi, dan rasa tanggung jawab. Kualitas tersebut adalah syarat wajib yang harus dimiliki oleh seorang pemimpin. Dalam agama saya, islam memiliki pandangan lain tentang figur seorang pemimpin sesuai dengan firman Allah di dalam surat Al Baqarah (2) ayat 30:

“Dan tatkala Tuhanmu berfirman kepada para malaikat, ‘Aku hendak jadikan khalifah di muka bumi’.”

Begitu pula dengan hadis riwayat At-Tirmidzi, Abu dawud, Shahih Al-Bukhari dan Sahih Muslim yang menyatakan bahwa:

“Setiap orang dari kamu adalah pemimpin, dan kamu bertanggung jawab terhadap kepemimpinan itu.”

Nyatanya banyak sekali orang yang berharap diri mereka adalah seorang pemimpin. Dilahirkan sebagai seorang pemimpin seolah bagaikan hal paling prestisius yang pernah ada. Namun mereka tidak pernah menyadari bahwa setiap dari diri mereka adalah pemimpin bagi diri mereka sendiri. Lalu ketika janin terbentuk, bukankah itu merupakan jawaban mengapa Allah pilih setiap individu terlahir dan menjadi bernyawa?

Kegalauan-kegalauan tersebut tersebut umumnya didasari oleh anggapan bahwa: (1) Mereka memang tidak mengetahui dan memaknai bahwa setiap manusia adalah khalifah atau pemimpin di muka bumi, dan di mulai dari diri mereka sendiri; (2) Mereka hanya berpikir bahwa pemimpin adalah ukuran kedudukan (jabatan) teratas yang dimiliki seseorang dengan beragam kemewahan dan keistimewaan yang bersifat materi; dan (3) Mereka lupa bahwa kepemimpinan adalah tentang memberikan pengaruh untuk perubahan yang lebih baik lagi. Ibarat sedang bertani, seseorang dengan sabar dan ikhlas mulai menyemaikan benih, menyiram secara rutin, memberi pupuk dan merawat hingga tumbuhan berbatang kokoh, berakar kuat, berdaun lebat dan rindang, serta berbuah manis.

Jawaban atas pertanyaan terakhir adalah, setiap orang PASTI BISA menjadi seorang pemimpin. Sebab sejak dilahirkan ke dunia, Allah memberikan tanggung jawab dan amanah berupa usia, kesehatan dan amal perbuatan yang telah ia lakukan semasa hidup, lalu ia akan mempertanggung jawabkan segalanya di hadapan Allah kelak. Dengan menjadikan hal tersebut sebagai motivasi dan tujuan akhir, maka setiap individu akan berlomba menjadi manusia-manusia yang senantiasa memberikan manfaat bagi kehidupan banyak orang. Pengaruh dan dampak yang positif tentu akan dirasakan oleh lebih banyak orang, maka bisa jadi tanpa pernah ia sadari, ia telah mengasah diri untuk menjadi seorang pemimpin sejati.

Kepemimpinan merupakan sebuah pengaruh. Buku teori kepemimpinan mana pun juga akan menyatakan hal yang sama. Mengenai hal tersebut JR Miller lalu berkata, “Ada pertemuan yang terasa hanya sesaat namun meninggalkan kesan seumur hidup. Tak ada seorang pun yang bisa memahami hal misterius yang kita sebut sebagai pengaruh…”

Bab akhir tentang kepemimpinan adalah adalah orang-orang yang percaya pada bisikan suara hatinya lebih dari siapapun. Ia akan memiliki prinsip teguh dengan landasan iman, sehingga membuatnya sebagai seorang pemimpin yang berlaku adil. Ia tak akan tergoyahkan dan tak akan tergoda untuk menyelewengkan kedudukannya demi kepentingan pribadi atau golongan.

Pemimpin adalah yang terdepan untuk mengorbankan diri, bukan menjadikan orang lain sebagai ‘tembok’ agar dirinya selalu berdiri pada zona paling aman.

Pemimpin adalah mereka yang senantiasa memberdayakan, bukan memanfaatkan potensi orang lain demi pencapaian suatu tujuan yang bersifat pribadi dan lebih banyak menguntungkannya

Pemimpin adalah mereka yang mampu melindungi, meskipun lemah secara fisik tetapi mereka tidak meninggalkan teman-teman mereka dan membuang mereka ketika tak lagi dibutuhkan. Jika demikian, lihatlah Hitler dan bagaimana akhir hidupnya. Adakah yang mau mati bersamanya saat tahtanya runtuh?

Pemimpin adalah yang paling berani dan banyak menanggung resiko, bukan yang bisa hidup berleha-leha karena membebankan resiko pada orang-orang mereka. Keadilan dan rasa tanggung jawab yang dimiliki sangat besar dalam hal ini. Karena ia tahu bahwa amanah sebagai seorang pemimpin akan ia pertanggung jawabakan di hadapan Rabb-nya.

Pemimpin adalah yang bergerak lebih dulu ketika semua orang masih saling tuding tanggung jawab ketika persoalan muncul. Mereka yang berani pasang badan untuk menanggung segala kemungkinan buruk yang bakal terjadi dan berani berinisiatif mencari jalan keluar dari suatu masalah.

Pemimpin tidak harus pintar, dalam hal ini dimaksudkan punya gelar berderet panjang, tapi WAJIB memiliki kemampuan untuk bekerja dengan cara yang cerdas dan untuk kebermanfaat masyarakat.

Pemimpin adalah mereka yang percaya bahwa orang lain punya potensi untuk maju dan berkembang, bukan menguasai dan mengendalikan segalanya sesuai keinginan dan kepentingan dirinya sendiri. Sebab dalam kamus man pun, EGOIS dan cenderung memaksakan kehendak bukan sifat yang dimiliki oleh seorang pemimpin. Jika demikian memang ada, ia lebih tepat menjadi pimpinan. Saat habis masa jabatan lalu dilupakan. Tak ada kesan apapun bagi bawahan mereka.

Yang terakhir adalah, seorang pemimpin harus dicintai dan diterima oleh masyarakat, oleh semua orang. Sebaik apapun kualitas seorang pemimpin dan sehebat apapun prestasi yang telah dicapainya, namun jika ia bukan termasuk orang yang dicintai dan tidak diterima oleh masyarakat, ia tidak akan bisa menjadi seorang pemimpin sejati.

Nah, jika kalian sudah mengetahui tentang “Apa itu pemimpin?”, “Siapakah pemimpin itu?” dan “Bisakah aku menjadi seorang pemimpin?”, kalian mungkin akan bertanya dengan pertanyaan terakhir berupa,

“Bagaimana caranya untuk mengasah diri supaya aku bisa menjadi seorang pemimpin yang baik dan memberikan manfaat untuk seluas-luasnya masyarakat?”

Maka, inilah momen yang paling kalian nantikan, yang paling kalian tunggu dan paling kalian butuhkan untuk menjawab pertanyaan di atas.

“Aku ingin jadi seorang pemimpin!!!”

“Ya!!! Aku ingin menjadi seorang pemimpin!!!”

Kawan, kalian tentu sadar bahwa tak ada jalan mulus yang dilewati untuk menjadi seorang pemimpin. Tak akan ada jalan pintas untuk merealisasikan tujuan, cita-cita dan mimpi-mimpi kalian untuk mencapai hal-hal besar yang bermanfaat bagi seluas-luasnya masyarakat. Akan banyak ujian, cobaan, rintangan dan tantangan yang akan kalian hadapi selanjutnya.

Kegagalan bertubi-tubi dan badai yang menghalang jalan kalian terkadang membuat kalian merasa putus asa. Kalian akan merasa sendiri dan semakin tumbang ketika banyak orang yang akan mencemooh impian kalian.

Tapi selalu ada jalan bagi mereka yang senantiasa berikhtiar. Salah satunya adalah:

“East Java Winner Camp 2017”

1499354359846[1]

Program Indonesian Youth Dream Regional Jawa Timur ini akan menjadi salah satu jawaban dari usaha kalian selama ini. Program Leadership Camp yang akan dihadiri 11 orang pembicara, pakar dan ahli di bidangnya masing-masing akan memberikan kalian pencerahan berupa wawasan, pengetahuan dan ilmu yang bisa kalian ‘bahan bakar’ kalian untuk merealisasikan mimpi-mimpi kalian selanjutnya bersama 100 Delegasi terpilih lainnya yang berasal dari berbagai daerah.

Jadi, mulai saat ini buang jauh-jauh perasaan rendah diri yang selama ini menghalangi pandangan kalian tentang dunia yang begitu luas, ilmu yang tak terbatas untuk dipelajari, berbagai pengalaman yang tak akan pernah habis untuk dirasakan, dan perasaan bahwa ‘Saya tidak ada apa-apanya dibandingkan mereka.’!!!

East Java Winner Camp 2017 bertujuan untuk melatih generasi muda untuk meningkatkan skill dan self-quality dalam bidang Nationalism, Leadership, Academic, Enterpreneurship, Personal Branding dan Social Empowerment yang diadakan selama tiga hari dua malam.

Melalui event yang diselenggarakan pertama kali oleh Indonesian Youth Dream Regional Jawa Timur diharapkan mampu mencetak generasi muda dengan jiwa pemimpin yang kuat di masa depan untuk selalu berkarya dan senantiasa membaktikan diri untuk kemajuan Indonesia.

1497963858467[1]East Java Winner Camp 2017 sekaligus menjadi wadah untuk kalian, para generasi muda, untuk saling menginspirasi, berkolaborasi, lebih berani bertukar ide atau gagasan, saling menguatkan tekad untuk berani bermimpi besar dan merealisasikannya demi satu tujuan, yaitu mengubah masa depan bangsa ke arah yang lebih baik lagi melalui tahap terpenting bagi suatu perubahan yang dimulai dari diri sendiri.

Melalui langkah kecil ini perlahan kamu akan mulai bisa mengasah diri dan menjadi kaya pengalaman.

Ayo, tunggu apa lagi. Segera download form pendaftaran di sini dan daftarkan dirimu!

IMG-20170706-WA0002[1]

Posted in Observasi Absurdisme :D

Panggilan Shayank :3

Postingan kali ini terbilang chukup istimewa. Ya, chukup syudah..

Kenapa istimewa???
Bagus. Jadi… kemarin tiba-tiba dalem laman email dan line account gw (entah sejak kapan gw posting contact yang sangat fragile ini di blog), berhamburan Pesan-pesaan teror yg bkkin gw merinding disko vroh…

Ya, gw merinding bukan karena gw kebelet eek atau faktor-faktor genetik lainnya. Pasalnya dalem email lama banyak manusia-manusia ababil yang mempertanyakan, “kenups sih lu make ‘mblo’ buat berkomunikasi dua arah antara lo sama penggemar lo???”

Buset banget kan, ya?
Dan masih ada beberapa lagi yang melontarkan hal yang sama. Yang kurang Cuma blitz kamera paparazzi dan lemparan tepung dari para haters.
Sejenak gw merenung di kala membuka mata. Sayup-sayup gw rasakan bau yang tak asing. Entah sejak kapan gw bangkit dan berjalan ke kamar mandi, pas nyadar tau-tau jongkok di wc dan gw sedang ‘menciptakan karya’ di sana.

Apakah itu gerangan merupakan salah satu faktor yang bikin fans jadi jarang mampir ke dunia per-goblog-an gw? Mungkinkah reader dan secret admirer gw sakit ati lantaran sering gw maki dengan sebutan jomblo atau mblo???
Dan setelah proses perenungan dan mencipta karya yang panjang tersebut, akhirnya gw siram kloset sebagai tanda gw telah menemukan ilham dan pencerahan.

Fans sayang, maafkan telah menyakiti hati kalian. Menggoreskan luka dan meninggalkan kepahitan dalam jiwa kalian. Lu sakit karena gw bilang jomblo, padahal seyogyanya itu adalah sebuah kenyataan bagi sebagian fans.
Dan mulai detik yang mendebarkan tersebut gw memutuskan, buat fangirl gw panggil ‘nyet’ dan fanboy gw panggil ‘nyong’. Ketika kalian bersatu dan memadukan kekuatan, gw panggil kalian ‘nyet-nyong’ sebagai bukti kasih gw dan cinta terdalam buat kalian.
Dan segitu sajalah curahan hati gw. Ga sampe sejam. Udah ya, sayang. Aqiqah mo ngebut skripsi lagi. Biar ntar cepet ada yang ngehalalin.

Orang bijak berkata,

“Sehari menunda skripsi, maka tertunda sehari pula langkahmu menuju pelaminan…”

[Nih but lu, nyet!]

41044877

[Dan ini but lu, nyong!]

8q7qh4

Posted in Rohayati: Kisah Kasih Kusut

​Kisah Kasih Kusut Si Rohayati [1]

CINTA ANAK ANJING
Rohayati. Dua puluh tahun usianya. Ia sadar bukan lagi seorang ABG. Dia bertekad untuk bermetamorfosis menjadi sosok yang benar-benar dewasa di usia kepala dua yang kini disandangnya. Lalu, apakah selama ini Rohayati tidak pernah dewasa? Lalu, apa gerangan keterkaitan antara gadis bernama Rohayati dengan kisah kasih kusutnya?

Selamat menikmati…

***

Rohayati…Rohayati…

Nama yang sederhana, terlalus ederhana bagi jiwa seorang gadis muda yang begitu kompleks alias ruwet. Terlahir dari keluarga sederhana, kaya enggak, miskin juga enggak.

Pinter kagak, dibilang bodo juga kagak. Dibilang cantik malah tersinggung, dibilang jelek nggak kalah marahnya. Entahlah, Rohayati…

Bagi Rohayati, dunianya adalah sepetak ruang kosong yang awalnya melompong. Rohayati hidup penuh ketegaran dan kemandirian. Jiwa mudanya membara, sayangnya terpenjara dalam belenggu norma. Ia tinggal di lingkungan keluarga yang dibilang agamis enggak, liberalis juga enggak. Ah, entahlah. Sejak kecil hidupnay begitu membingungkan. Syukurlah, jiwa fleksibelnya tertempa sejak kecil. Alhasil, ia tahu di posisi mana ia harus berperan dalam dinamisnya perubahan lingkungan.

Rohayati, sejenis bunglon kah ia?

Yang jelas, Rohayati kecil menikmati cinta pada pandangan pertama dengans eorang berondong, alias adik kelas yang berhasil naik kelas lima berkat kecerdasannya. Rohayati tak terima. Ia merasa tersaingi, padahal seharusnya ia sadar kemampuan otaknya yang begitu pas-pasan, kadang memprihatinkan. Rahman namanya. Dan jadilah ia rival resmi Rohayati sejak saat itu. Rahman pun sekejap mengambil hati para guru dan teman-teman sekelas. Bak wabah TBC, pesona dan prestasi Rahman merebak cepat sampai sudut sekolah. Ia jadi tenar dalam waktu sekejap.

Sayangnya, cinta anak anjing alias puppy love pertama Rohayati tertambat pada sosok seorang bocah bernama Rahman. Seumur hidupnya yang baru seumur jagung, Rohayati begitu terpesona dengan suara mendayu-dayu Rahman ketika ia maju pentas untuk lomba Qari Al Qur’an. Sesuatu mendobrak jiwa Rohayati untuk yang pertama kala itu.

Seorang yang tidak ia suka, mau tak mau mengubahnya menjadi singa betina jinak lantaran kasmaran. Ah, cinta anak anjing. Sebegini indahnya kah rasanya…

Alhasil, waktu mampu mengalahkan segala keangkuhan dalam diri Rohayati. Uang tabungan yang sering ia sisihkan untuk beli komik, novel atau majalah Bobo, terpaksa harus ia alokasikan seluruhnya untuk beli lulur dan masker bengkoang. Sungguh tahu diri ia rupanya.

Rahman yang alim, pendiam dan kadang lucu itu tentu enggan dengan gajak buluk macam Rohayati. Memandang pun barangkali ia merasakan mual tak terkira.

Dua bulan berlalu, hubungan Rohayati yang sebatas sapa dan salam diselingi tawa malu-malu itu berubah menjadi kian akrab. Siapa gerangan yang tahu jika Rahman punya banyak kesamaan dengan Rohayati. Tentunya hal tersebutlah yang hingga kini disesali oleh Rohayati. Rahman tak kalah cerdas menceritakan alur kisah Detektif Conan dan Lima Sekawan dengan berapi-api pada Rohayati. Kegemaran membaca dan aura kharismatik itulah yang menghipnotis Rohayati.

Besoknya gadis muda itu bertekat turun berat badan agar ketika sebangku dengan Rahman, lelaki itu tak jengah dibuatnya karena Rohayati suka makan tempat.

Hingga akhir desember kelabu sebelum tahun baru, Rohayati merasakan patah hati yang teramat sangat. Dua tahun menjalin hubungan tanpa status, pacar bukan, bahkan terkesan tak pernah dianggap pacar oleh Rahman, sahabat pun rasanya lebih dari itu. Dan hari kelam itu terjadi tatkala Rohayati dan Rahman jalan bersama menyusuri jalanan setapak di belakang sekolah. Keduanya dihadang, bukan untuk dibegal sebab mereka berdua terlalu miskin untuk punya kendaraan bermotor.

Lalu Rahman dibawa ke lapangan yang tak seberapa luas. Di tengahnya anak-anak kelas yang dikenali Rohayati bersenda gurau, pun bergandengan tangan berputar mengelilingi sesosok gadis muda yang Rohayati kenal pula. Amira.

Kembang sekolah yang mampu menempatkan Rohayati di atas bumi, sedangkan Amira berada di langit ke tujuh levelnya. Alhasil, karena jumlah massa yang terlalu banyak, serta rasa tahu diri Rohayati bahwa sampai kapan pun ia tak bakal bisa bersaing dengan Amira, ia melangkah mundur meninggalkan Rahman yang masih ‘ditahan’ untuk selanjutnya disandingkan dengan Amira.

Rasa lain mendobrak jiwa muda Rohayati. Napasnya menjadi sesak. Ia bisa mendengar sedniri degup kencang jantungnya. Tangannya mengepal ingin segera menghajar seseorang, tapi kedua dengkulnya terasa lemas. Sambil terus memandangi ‘dua mempelai’ yang sama-sama terlihat bahagia dan serasi itu, matanya mengabur. Wajahnya panas. Melelehlah air matanya dengan deras. Gadis itu di sana, tetap berdiri mematung tiada daya. Ditinggalkan sendirian dan diabaikan oleh waktu. Ia meresapi setiap rasa sakit yang menggerayangi seluruh hatinya. Entah sudah berapa lama air matanya mengucur tiada henti. Ia menangis dalam kehampaan ruang dan waktu. Tak ada yang melihat Rohayati, tak ada pula yang mendengar isak tangisnya.

Rahman dan Amira berpegangan tangan, senyum keduanya mengembang, Rohayati ingin pingsan.

[Bersambung…]

Posted in Observasi Absurdisme :D

Are You A Secret Lover, Read This!!!

Jika orang lain memilih untuk maju memperjuangkan perasaan mereka agar menjadi nyata, kamu yang lebih memendam cinta pasti meraskan juga lika-likunya. Kamu patut sadar bahwa memendam cinta bukanlah sikap seorang pengecut, juga bukan sifat seorang psikopat (meski kadang ada benernya hehe…).

Mengagumi dari jauh, selalu ingin tahu siapa diri terdalam orang yang membuatmu jatuh hati, mendukung dan berdoa buatnya tanpa ada yang tahu, bahkan cemburu dan bersikap posesif (meski hanya dalam diam) pada setiap yang dekat dengannya adalah segelintir cerita yang selalu kamu lalui  sehari-hari sebagai seorang secret lover aka secret admirer.

Memendam rasa dalam diam dan memilih untuk tidak mengungkapkannya adalah hal paling berani. Nggak semua orang berani lho ngelakuin ini. Standing apllause deh, buat mereka yang berani mengundang rasa sakit…

Suka diam-diam ngga berarti buruk kok, mblo. Malah gw memperhatikan kualitas terbaik dalam diri seorang Secret Lover atau Secrer Admirer seperti yang ada di bawah ini… (menurut survey pribadi dan hasil ngobok-obok buku psikologi) #eeeetdaaaaah

Kamu memahami bahwa cinta itu sepenuhnya tentang tindakan. Titik!

love-story-valentines-giveaway(fatchett.com).jpg

fatchett.com

Kamu sadar bahwa cinta itu bukan hanya sekedar kata dan gombalan, maka kamu lebih memilih berdoa buatnya dan menunjukkan isi hatimu lewat sikap dan perilaku, bukan gombalan murahan! Memilih diam demi menjaga hati dan hidupnya adalah sikap paling kece dari seorang pecinta sejati 🙂

Tindakanmu yang penuh ketulusan hati itu….

13754297_1199503013413477_5570806280449448621_n.jpg

Kamu patut tahu bahwa tindakan yang berlandaskan cinta, semua orang akan bisa merasakan ketulusan dalam tindakanmu, bukan hanya dia yang kamu sayangi. Soal fisik, materi dan segala tetek bengek yang berbau duniawi, lewaaaaat…. Buatmu, bahagia adalah membuatnya bahagia.

Kamu belajar bahwa cinta itu tentang kesabaran

o-WOMAN-THINKING(i.huffpost.com).jpg

s3.amazonaws.com

Memendam rasa adalah pilihan paling bijak demi menjaganya. Salah langkah hanya akan membuatnya semakin jauh dan illfeel denganmu. Bukan perkara mudah memang. Tetapi rasa takut untuk mengusik hidup orang yang kamu cinta nyatanya membuatmu memilih diam dan bersabar untuk beberapa lama lagi sebelum tiba saat yang tepat. Semua bakal indah pada waktunya, ya nggak mblo?

Kamu mampu membedakan mana cinta dan mana nafsu

Kamu melihat bahwa cinta adalah cinta, dan nafsu adalah nafsu. Tak akan tercampur antara keduanya. Cinta tak lekang oleh materi duniawi, tetapi nafsu mudah membutakan ketika materi duniawi yang lebih gemerlap terpampang nyata membahana di depan mata. Jadi, tanya sama diri sendiri, apa yang bikin kamu kepincut sama dia?

Hartakah?

Paraskah?

Silsilah keluargakah?

atau Jabatankah?

Kamu mampu melihat kualitas dan potensi terdalam seseorang

Yep, khususnya buat orang yang kamu sayangi. Nggak mungkin hatimu tertaut begitu dalam sama seorang yang biasa saja atau hanya sekedar rupawan. Pas liat yang jidatnya kinclong dikit, buyar deh itu cinta.

Pasti ada suatu magnet mental yang mampu menarikmu begitu kuat. Magnet itu adalah kualitas diri, potensi diri, kecerdasan, kesantunan sikap, senyum yang tulus, tatapan mata penuh antusias dan semangat dalam diri. Semakin kamu mengenal ‘isi’ dalam diri seorang yang kamu sayangi, semakin jauh rasa kagum menjelma menjadi cinta.

DILEMA UMUM: Kamu merasa sangat takut kehilangannya, tetapi merasa tak pantas untuk memiliki

tumblr_nl06eulHBj1r695ygo1_1280(66_media.tumblr.com).jpg

66.media.tumblr.com

Bingung kan, mblo? Bukan cuma kamu kok, di dunia ini yang pernah nyicip dilema cinta macam itu. Kamu merasa orang yang kamu sayangi adalah segalanya. Ia terlihat agung di matamu. Semakin kamu mencoba memantaskan diri, semakin kamu bingung di buatnya.

Saat mencoba melupakan, rindu padanya semakin terasa sesak (meski kamu membenci dirimu karenanya)

 Sad-girl(stylearena.net)

stylearena.net

Beragam cerita yang telah kamu lalui membuatmu menjadi seorang yang tegar dan tangguh

13726700_1199503296746782_3908025044735321214_n.jpg

Setuju dong, kalau cinta itu nggak harus memiliki.Kamu sadar bahwa cinta tak harus memiliki. Kamu bahkan lebih merelakan ia bahagia dengan yang lain ketimbang dengan dirimu sendiri. Beragam tempaan hidup terutama soal cinta dan asem manis pahitnya yang kadang susah dilupain sudah kamu cicip semuanya.

Hingga tanpa kamu sadari, sebenarnya kamu adalah seorang yang luar biasa. Inget kata Bunda Elly di atas, noh.

Pada akhirnya kamu mengerti bahwa cinta yang kamu pendam adalah ujian terbesar buatmu

girl witing (9walls.in).jpg

9walls.in

Dalam iringan doa kamu selalu berharap agar dipertemukan dengannya suatu saat nanti. Pada suatu titik akhirnya kamu merasa bahwa ia semakin jauh. Terlalu malu untuk mengungkapkan, tetapi merasa tersiksa jika harus mengubur dalam-dalam rasamu. Kamu memilih merelakan meski air mata sebagai harga yang harus kamu terima.

Cinta yang kamu tanam dan tumbuh bagai sekuntum bunga dalam hatimu, tiba-tiba harus tercabut paksa hingga menyisakan lubang yang menganga dalam. Sadarilah bahwa saat itu Tuhan mengujimu, sekaligus sedang mempersiapkan yang lebih baik buatmu. Hingga lubang dalam hatimu akan terisi kembali dengan sosok yang lain.

***

Sekedar corat-coret. Maaf kalau rada absurd dan data kurang sesuai dengan sebagaian orang. Tiap orang punya jalan cerita dan kisah mereka masing-masing.

Setelah nunggu sampe gondrong, akhirnya versi website idnTimes-nya nongol. Check this out!

Happy malem sabtu, mblo (^_^)